Label

Minggu, 01 Januari 2012

Kisah Murabbi dan Segerombolan Preman

kisah ini saya ambil dari sebuah novel,,
maaf bukannya plagiat, tapi saya pikir ada makna yang mendalam dibalik kisah ini,,
semoga bermanfaat,,


Pernah suatu hari, aku meminta tolong teman-teman untuk mengisi kajian para preman. Ternyata teman teman banyak yang belum siap untuk mengembangkan dakwah dikalangan para preman. Sehingga kajian untuk para preman, masih tetap aku yang mengisi. Memang sangat unik sekali saat bertemu dengan preman-preman itu, saat-saat pertama mengenal mereka. Entah apa yang membuat para preman ini sadar, akan pentingnya mengenal Islam lebih dalam. Perjumpaan yang sangat unik, saat aku selesai mengisi kajian ditempat anak-anak yang kurang beruntung, aku berjalan sendirian diperkampungan kumuh itu.

Disebuah pinggiran kali, aku berpapasan dengan tiga para preman. Mereka melihatku dengan tatapan yang tajam, seakan aku adalah mangsa yang siap untuk diterkam, dan tentunya sangat lezat. Jantungku berdetak kencang, aku merasakan ketakutan saat berhadapan dengan para preman. Tak pelak aku pun beristikfar dalam hati dan meminta perlindungan kepada sang Maha pelindung.
“Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepadaKu, jika kamu
benar-benar orang yang beriman." (QS Ali Imran : 175). 
Aku teringat dengan apa yang difirmankan Allah, sungguh dahsyat apa yang kurasakan setelah mengingat Ali Imran ayat 175. Tubuhku seakan siap menjadi tentara Allah yang akan menghadang para segerombolan kaum Bani Israil.

“Hai kamu! Kesini” teriak salah satu preman itu, memanggilku.
Dengan santai aku pun mendatangi ketiga preman itu “ada apa Bang?” jawabku.
“Jadi ini yach, Guru ngaji itu!” ucap salah satu preman yang berada ditengah.
“Iya Bos, dia salah satu dari guru ngaji itu!” jawab salah satu preman disebelahnya.
Aku hanya diam dan menatap mereka, serta bersiap siaga jika mereka akan berbuat
sesuatu kepadaku.
“Apa benar kamu guru ngaji, yang ngajar digubuk sana?” tanya preman yang dipanggil
Bos, dan kemungkinan dia memang memang Bos preman didaerah kumuh ini.
“Iya benar!” jawabku singkat dan mantap, sambil sedikit menganggukan kepala.
“Hem, aku sudah mendengar kalakuan kalian pada anak-anak disini!” ucap si Bos preman itu.
“apa kamu nggak takut, sama kami!” ucapnya lanjut, dengan sedikit agak membentakku.

Saat itu aku hanya sedikit tersenyum lalu mengatakan “maaf kalau saya mengganggu atau ada kelakuan saya dan teman-teman yang tidak mengenakkan, kami mengajar kesana hanya untuk meningkatkan keilmuan anak-anak, serta mencari pahala yang dijanjikan
oleh Allah swt! Tidak ada maksud lain selain itu.” Ucapku tenang dan tegas
“Jadi, kamu memang benar-benar tidak takut pada kami!” Bos preman itu membentak keras kepadaku
“Maaf, bukan bermaksud seperti itu! Saya dan teman-teman, mengajar dengan keIkhlasan. Bukan mencari permusuhan!” jawabku mencoba untuk menenangkan mereka.
“Dasar bocah. Kamu sudah berani menginjak daerah kami!” ucap salah satu preman yang berambut gondrong.
“Sudah sikat saja!” ucap preman yang berbadan ceking, berambut cepak sambil langsung bergerak mengepungku, tidak terkecuali preman yang berambut gondrong itu. Si Bos preman hanya melihat dan diam saja. Darah sudah mendidih, luapan emosi sudah menerjang pada ketiga preman itu. Aku juga sudah bersiap siaga menerima serangan dari kedua preman itu.

“Tak ada yang saya takuti selain Allah swt, jikalau saya mati disini! Maka akan banyak tentara Allah yang akan menghajar kalian! Dan saya syahid dijalan-Nya” ucapku keras.
Saat si preman gondrong akan menyerang, terdengar teriakan keras “HENTIKAN”. Kami
 pada Si bos preman itu. “Sudah, hentikan!” perintahnya lagi.
Aku masih tetap bersiapsiaga jika sewaktu-waktu mereka menyerangku. Si Bos preman itu mendatangiku, lalu dia tersenyum sambil berkata “Hai anak muda, siapa namamu?”
“Khalid, Khalid Hendriansyah!” ucapku tenang dan tetap tegas.

“Baru kali ini, saya berhadapan dengan anak muda yang berani!” ucap Si bos preman,
selanjutnya dia mengatakan “sebenarnya beberapa kali, ada anak muda yang mengajarkan ngaji pada anak-anak diperkampungan kumuh ini. Tetapi mereka adalah anak muda yang munafik, mereka mengatakan kebesaran Tuhannya tetapi mereka menakuti manusia. Mereka takut pada kami, para preman! Saat aku melihat kamu, aku ingin menguji keberanianmu, aku ingin menguji keimananmu, ingin menguji kekuatan
kepercayaanmu kepada Tuhanmu. Dan menguji, apakah kamu dari golongan anak muda yang munafik itu? Sungguh luar biasa keberanianmu, engkau tak takut akan kematian. Bahkan engkau mencari kematian, kematian diatas nama Tuhanmu! Dan ternyata kamu bukan dari golongan anak-anak muda yang munafik itu.”
Nih preman gak tau kali ya, kalau aku sebenarnya juga takut! Tapi Alhamdulillah, dengan pertolongan Allah swt, rasa takutku pun menjadi sebuah keberanian. Ucapku dalam hati.
Si Bos preman mendekat kepadaku, lalu menepuk pundakku sambil mengatakan “hai anak muda, kami tidak ingin ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya. Kami ingin anak-anak kami di didik oleh orang-orang yang memang mengerti tentang Tuhan. Tidak takut akan ancaman manusia, tetapi dia lebih menakuti ancaman-ancaman Tuhannya. Sehingga anak-anak kami nantinya, menjadi seorang pemberani dalam hidup. Dan termasuk dari golongan orang-orang yang shaleh.” Si bos preman itu  memandangi aku,layaknya berharap kepadaku, berharap tentang ajaran kebenaran. Berharap akan datangnya cahaya keIlahian. Setelah itu Si bos berkata “Khalid, jangan kamu kira bahwa kami tidak perduli dengan masa depan anak-anak kami! Kami berpenampilan seperti ini, karena kami ingin melindungi daerah ini, dari preman-preman yang lain! Dengan seperti ini kami lebih leluasa untuk bergerak.”

Aku tersenyum saat Si bos preman itu menatap tajam penuh makna, penuh pengharapan dari orang yang menginginkan kebenaran.
“Insya Allah, saya akan mendidik anak-anak dilingkungan sini dengan ilmu yang pernah saya dapatkan! Saya hanya menginginkan keridhoan Allah saja dalam berjuang, bukan yang lainnya.” Ucapku.
“Terima kasih, Khalid! Dan jika kamu butuh apa-apa silakan panggil kami.” Ucap Si bos preman sambil akan beranjak pergi.
Saat dia akan beranjak pergi, serta merta pun aku langsung memanggil Si bos “maaf, saya belum tahu nama Abang!”
Si bos preman membalikkan tubuhnya menghadap aku, dia tersenyum sambil menjawab
“Panggil aku, Jamal! Sampai jumpa Khalid”
Saat hendak Si bos preman alias Bang Jamal melangkah meninggalkanku, aku berteriak “Assalamua’alaikum, Bang”. Bang Jamal menoleh, sambil tersenyum dan menjawab “Walaikumsalam” setelah itu dia pergi.

Aku tertegun sesaat, pikiranku menerawang mengingat apa yang dikatakan Bang Jamal “Kami tidak ingin  ada orang yang mengajarkan anak-anak kami tentang bagaimana mengenal Tuhan, sedangkan dia sendiri tidak mengenal-Nya.” Sungguh luar biasa apa yang diucapkan Bapak Jamal. Tiada kata yang seindah dengan pengingatan keras, seperti apa yang diucapkan Bang Jamal. Sungguh aku benar-benar takut, takut  jika tidak dapat mengemban amanah ini. Sebuah ucapan yang harus diperhitungkan, meski ucapan itu
diucapkan oleh orang-orang jalanan atau bahkan seorang preman. Tiada hal yang harus kita singkirkan, dari pernyataan seorang preman yang begitu agung. Mungkin pernyataan Bang Jamal, layak disetarakan dengan Aristoteles atau mungkin Imam Ghazali, sungguh pernyataan yang tidak dapat diduga dari mulut seorang yang masih tidak begitu mengenal tentang kebenaran dari Tuhan. Tapi tetap, Bang Jamal adalah Jamal, bukan Aristoteles atau bahkan Imam besar Al Ghazali.

Yang aku tahu, dijaman seperti sekarang ini pernyataan yang di ucapkan oleh Bang Jamal sangat langka. Kita lebih banyak tahu, tentang orang-orang yang selalu berpikiran sempit tentang ajaran-ajaran kebenaran ini, Islam. Apalagi menganggap bahwa, anak-anak yang mempelajari agama Islam, adalah anak-anak yang ketinggalan jaman. Mereka mungkin lupa dengan apa yang dikatakan Imanuel Kant, bahwa tingkatan paling tinggi dari estetika dan etika, dari derajat manusia adalah rasa keimanan yang tinggi terhadap agamanya (relegius).

Jumat, 30 Desember 2011

asyiik,, tahun baruan yuukk,,,

""Menghitung hari, detik demi detik"

wahhhh,,
nggak berasa bentar lagi udah mau tahun baru aja ya,, perasaan serasa baru kemaren tahun baru 2011, eh "ujug-ujug" alias tiba-tiba udah mau tahun baru 2012,, ckckck,,
"time is like race. when we start it, we know that we will reach the finish line in the end of it,,"
hayo artinya apa?? saya juga gak paham,, hehehe,,

biasanya kalau tahun baruan pada ngapain sih?
keliling kota ngabisin bensin terus nongkrong di pinggir jalan makan kacang sambil liat kembang api?
atau malah duduk tenang tempat makan atau kafe, trus nyiapin terompet sambil menghitung "5, 4, 3, 2, 1" trus bersama-sama niup trompet sampe bunyi :
"PPPRRRRRREEEEEEEETTTTT,," (duuhh, siapa yang kentut tuh? hehehe,,)
hmmm,,,
kalau mau dibilang gaul, bukan gitu caranya mameeenn, nih saya kasih sarann,,

ada yang salah dari cara kita merayakan tahun baru, dan pada dasarnya buat apa sih ngerayain tahun baru pake cara gituan? menurut saya itu mubazir alias "mbuang duwit thok pokokke,," (: ngapak mode on),,
ada cara hemat dan tepat buat menyambut tahun baru nihh,,

Cara Satu
ngumpul di rumah temen siapa gitu, trus masak bareng rame-rame,, okelah beli sedikit kembang api, asal bukan dari jenis TNT High Explosive,, (emang ada ya?? hmm,, )
nahh, makan bareng dah tuh makanan yang kalian masak bareng-bareng,,
udah hemat, asyiik, nggak capek pula kan,,
eittsss gitu doang?? ga asyiikk amaaatt gaann?? hehehe, ya nggak lahh,,,
sambil menunggu detik-detik pergantian tahun, kalian ngumpul terus bikin lingkaran,,
habis itu satu-satu kalian lakukan refleksi diri apa yang kalian selama satu tahun ini lakukan, baik itu yang baik maupun yang buruk (tapi kalo itu aib, mending jangan di publish, ntar di re-tweet sama yg laen lagi,, hehehe),, terus sampaikan jg harap-harap kalian untuk satu tahun kedepan,, nah kalo udah ngomong semua terus berdoa bersama, biar kesalahan-kesalahan di tahun sebelumnya tidak terulang lagi,, terus biar dimudahkan untuk menggapai apa kita rencanakan di tahun berikutnya,,
hehehe,,

Cara Dua
nah menurut ini cara paling bagus buat melewatkan tahun baru,, saya jamin, ga pake modal, ga pake capek, ga pake lama rencanainnya,,
cukup melibatkan diri sendiri dan Allah SWT,,
so, just do it,, is so simple,,
kok bisa?? ya bisa laahh,,
nihh caranya,,
siapkan sajadah, Al-Qur'an, baju muslim terbaik dan segelas kopi hangat,,
trus ngapain??
eiitss, sabar dulu,, pasti pada penasaran? iya kan, iya donk, bener kan, bener donk.. hehehe,,

buat melewati saat-saat pergantian tahun dengan carabyang terbaik adalah semakin mendekatkan diri pada Illahi Rabbi,,
nah, isi waktu tuh dengan baca Al-Qur'an, sholat sunnah terus muhasabah diri sebanyak mungkin,,
coba ingat-ingat lagi, selama setahun belakangan ini udah berapa banyak dosa yang kita lakukan?
berapa kali kita melanggar apa yang dilarang Allah?
berapa kali kita melakukan perbuatan yang tidak bermanfaat?
atau bahkan berapa kali kita berbuat dzolim pada orang lain??

masya Allah, nggak berasa pasti banyak banget kan,,
nahh, mohon ampunlah pada Allah SWT atas segala dosa-dosa kita selama setahun belakangan,,
kalo ada hubungannya sama orang lain, jangan lupa minta maaf dulu sama orang lain yaa, biar semakin mantap dan afdhol,,
nah, habis itu silakan bermunajad (bahasa gampangnya curhat dan pe-de-kate dah,,, ) pada Allah SWT,,
minta semua harapan-harapan kita untuk setahun kedepan pada Allah SWT,,
kan DIA yang menciptakan kita, sudah pasti hanyalah DIA yang akan mencukupkan semua kebutuhan dan mengabulkan apa yang kita minta,,
insyaAllah, yang penting kita berniat, berusaha, berdo'a dan tawakal,, apa sih yang nggak dari Allah SWT untuk ummat-ummat kesayangan-Nya,, hehehe,,

nahhh, udah baca tips-tip dari saya kan??
so, silakan pilih gimana cara kalian melewati pergantian tahun,,
daripada melakukan hal-hal yang kurang bahkan "TIDAK" bermanfaat,,,
hati-hati lho, sungguh merugi orang-orang yang melewatkan waktu dengan hal yang nggak bermanfaat,,
coba baca Surat Al Ashr,, yang isinya kalo dibahasa indonesia gini,,

"  Demi waktu,  Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi.  Kecuali orang-orang yang beriman dan berbuat kebaikan, dan saling menasihati untuk kebenaran, dan saling menasihati untuk kesabaran. "

ga mau kan dibilang orang rugi? pasti ga mau lah,, siapa sih orang yang mau rugi,,
betul tidak,, (:baca pake gayanya Aa Gym)
do everything in the right way, right place and right time,,
so everything is gonna be right,,
insyaAllah,,

====== abid tommy =====